Friday, November 14, 2014
Diintip di Toilet
Pernah ga Sahabat EHS diintip di urinoir toilet? Wiiiihhhh .. Tidak bisa membayangkannya kan? EHS juga. Tapi EHS punya pengalaman diintip di toilet lo, jadi bisa dijadikan peringatan ataupun pelajaran.
Singapore
Waktu itu EHS sedang di Bugis Junction. Sebetulnya tidak ada kejadian intip-mengintip sih di sini. Hanya saja anak muda Singapore itu kalau kencing agak jauh dari urinoir. Jadinya seperti disengaja minta diintip hahaha .. Ternyata mereka melakukan itu karena takut air seninya mengenai pakaiannya.
Taipei
Taipei Main Station (selanjutnya disebut TMS) merupakan pusat dari transportasi di Taipei. Kalau mau kemana saja, pasti melewati sini. Jadi bisa dibayangkan betapa ramainya saat jam pulang kerja. Selain itu, TMS dikelilingi banyak pusat perbeanjaan dan mall yang menyambung dengan TMS, yang menyumbang juga banyaknya pengunjung di TMS ini.
Thursday, November 6, 2014
Magnum Marc de Champagne
EHS kali ini hanya mau mengingatkan pada Sahabat EHSNOUTA, kalau kebetulan berkunjung ke Singapore, jangan lupa untuk mencicipi ice cream ini ya.
Walaupun ini keluaran ice cream Walls juga (ada di Indonesia juga), tapi untuk rasa ini tidak dikeluarkan di Indonesia. Untuk harganya memang agak mahal sekitar 3 kali lipat kalau dibanding Indonesia. Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba varian baru. Selain itu, dinginnya es ini akan mengobati kita dari hawa Singapore yang juga panas. Dan jangan dilupakan untuk coklatnya yang mengandung zat yang dapat membuat kita bahagia. Jadi ditengah panasnya Singapore, tidak ada salahnya untuk mendongkrak mood kita dengan mood booster ini.
Walaupun ini keluaran ice cream Walls juga (ada di Indonesia juga), tapi untuk rasa ini tidak dikeluarkan di Indonesia. Untuk harganya memang agak mahal sekitar 3 kali lipat kalau dibanding Indonesia. Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba varian baru. Selain itu, dinginnya es ini akan mengobati kita dari hawa Singapore yang juga panas. Dan jangan dilupakan untuk coklatnya yang mengandung zat yang dapat membuat kita bahagia. Jadi ditengah panasnya Singapore, tidak ada salahnya untuk mendongkrak mood kita dengan mood booster ini.
Tuesday, October 21, 2014
De Mandailing Cafe Surabaya
Tidak tahu mulai kapan, tetapi jalanan di dekat rumahku Surbaya sekarang mulai banyak dihiasi cafe-cafe yang lumayan cantik. EHS sangat menyukai cafe biarpun kecil, tetapi interiornya setidaknya lumayan menarik. Karena di Seoul, juga banyak cafe rumahan yang sangat cantik. Di Jakarta sekarang juga mulai bertebaran cafe cantik. Semoga dengan ini, cafe cantik di Surabaya (terutama di jalanan rumah EHS) mulai booming juga. Dengan begitu, EHS tidak akan kesulitan untuk mencari kopi ketika di Surabaya.
Tidak jauh dari rumah EHS, berdirilah sebuah cafe yang bernama de Mandailing. Dan senangnya lagi, dari rumah EHS dapat berjalan kaki kira-kira 3 menit HAHAHA ..
Tempatnya tidak luas, karena hanya menempati sebuah ruko di kawasan Klampis. Untungnya interiornya lumayan rapi sehingga biarpun tidak terlalu luas, tetap terasa lega. Cafe ini sistemnya seperti cafe-cafe di mall. Setelah masuk, kita memesan makanan dan minuman di kasir dan sekalian membayar. Setelah itu kita memilih tempat duduk, kita dapat memilih di lantai bawah atau di lantai atas. Setelah beberapa saat, pesanan kita pun datang.
Tidak jauh dari rumah EHS, berdirilah sebuah cafe yang bernama de Mandailing. Dan senangnya lagi, dari rumah EHS dapat berjalan kaki kira-kira 3 menit HAHAHA ..
Tempatnya tidak luas, karena hanya menempati sebuah ruko di kawasan Klampis. Untungnya interiornya lumayan rapi sehingga biarpun tidak terlalu luas, tetap terasa lega. Cafe ini sistemnya seperti cafe-cafe di mall. Setelah masuk, kita memesan makanan dan minuman di kasir dan sekalian membayar. Setelah itu kita memilih tempat duduk, kita dapat memilih di lantai bawah atau di lantai atas. Setelah beberapa saat, pesanan kita pun datang.
Monday, October 6, 2014
Thailand 2014: Asiatique
Thailand merupakan salah satu negara kesukaan EHS. Tetapi sayangnya penerbangan dari Surabaya menuju Bangkok sekarang tidak ada yang murah. Jadi waktu EHS ke Cambodia kemarin, karena sudah dekat dengan Thailand, EHS sempatkan mampir sebentar di Bangkok. Tujuan utama di Bangkok adalah belanja dan kuliner hehehe .. Jadi EHS tidak akan menceritakannya lagi. Tetapi ada satu tempat yang akan EHS bahas kali ini.
Asiatique The Riverfront
Merupakan night market yang lumayan baru di Thailand yang dibuka pada bulan Mei 2012. Sebetulnya sudah cukup lama, tetapi EHS baru berkesempatan mengunjunginya sekarang. Waktu terbaik mengunjungi tempat ini adalah pada waktu malam hari, ketika lampu-lampu mulai menyala, musik-musik mengalun merdu, dengan model bangunan yang seperti blok-blok pertokoan dengan gang-gang yang hanya dilalui pejalan kaki, menambah kesan romantis tempat ini.
Monday, September 8, 2014
Cambodia 2014: Angkor Archeological Park
Kamis, 31 Juli 2014.
Akhirnya sampai juga di puncak acara yang ada di Cambodia. Angkor Archeological Park ini merupakan suatu lahan (yang sangat luas) yang berisi kumpulan candi-candi. Karena sangat luas, EHS sampai tidak dapat menjamah semuanya. Ada berbagai macam cara untuk menuju kesini, naik sepeda (rental sepeda USD 2/hari), menyewa motodop (ojek) seharian USD 10-15, menyewa tuk-tuk seharian USD 15-20 (tuk-tuk bisa ditumpangi sampai 3 orang, jadi biaya juga dibagi 3), dan yang terakhir yang EHS pilih adalah menggunakan tour lokal USD 13. Dengan tour lokal, kita bergabung dengan orang lain dan dijemput dengan minivan dengan AC dan diberi aqua 1 orang 1 botol. Kalau untuk pertama kali kesini, akan sangat membingungkan kalau tidak memakai guide. Terkadang sopir tuk-tuk juga memberi penjelaskan kepada customernya. Tetapi pasti ada perbedaan yang besar antara guide bersertifikasi dan sopir tuk-tuk. Jadi, EHS memilih yang terbaik. Jika nanti diberi kesempatan yang lain, setidaknya EHS sudah memiliki bekal dari guide profesional.
Untuk masuk ke kompleks candi, kita akan berhenti di sebuah bangunan untuk membayar tiket masuk dan berfoto. Tiket masuk kita nanti bakal ada foto kita. Tiket tersebut jangan sampai hilang, karena disetiap pintu masuk candi bakal diperiksa. Untuk tiket masuknya sehari (one day pass) USD 20, tiga hari (three day pass) USD 40, seminggu (one week pass) USD 60. Cukup mahal memang, tetapi sebanding dengan kemegahannya.
Jika kita menggunakan tour lokal, kita tidak dibawa ke semua candi. Tetapi hanya dibawa ke candi-candi yang terkenal saja. Setelah itu sampailah kita di pintu masuk komplek Angkor.
Akhirnya sampai juga di puncak acara yang ada di Cambodia. Angkor Archeological Park ini merupakan suatu lahan (yang sangat luas) yang berisi kumpulan candi-candi. Karena sangat luas, EHS sampai tidak dapat menjamah semuanya. Ada berbagai macam cara untuk menuju kesini, naik sepeda (rental sepeda USD 2/hari), menyewa motodop (ojek) seharian USD 10-15, menyewa tuk-tuk seharian USD 15-20 (tuk-tuk bisa ditumpangi sampai 3 orang, jadi biaya juga dibagi 3), dan yang terakhir yang EHS pilih adalah menggunakan tour lokal USD 13. Dengan tour lokal, kita bergabung dengan orang lain dan dijemput dengan minivan dengan AC dan diberi aqua 1 orang 1 botol. Kalau untuk pertama kali kesini, akan sangat membingungkan kalau tidak memakai guide. Terkadang sopir tuk-tuk juga memberi penjelaskan kepada customernya. Tetapi pasti ada perbedaan yang besar antara guide bersertifikasi dan sopir tuk-tuk. Jadi, EHS memilih yang terbaik. Jika nanti diberi kesempatan yang lain, setidaknya EHS sudah memiliki bekal dari guide profesional.
Untuk masuk ke kompleks candi, kita akan berhenti di sebuah bangunan untuk membayar tiket masuk dan berfoto. Tiket masuk kita nanti bakal ada foto kita. Tiket tersebut jangan sampai hilang, karena disetiap pintu masuk candi bakal diperiksa. Untuk tiket masuknya sehari (one day pass) USD 20, tiga hari (three day pass) USD 40, seminggu (one week pass) USD 60. Cukup mahal memang, tetapi sebanding dengan kemegahannya.
Jika kita menggunakan tour lokal, kita tidak dibawa ke semua candi. Tetapi hanya dibawa ke candi-candi yang terkenal saja. Setelah itu sampailah kita di pintu masuk komplek Angkor.
Wednesday, August 27, 2014
Cambodia 2014: Siem Reap
Halo Sahabat EHSNOUTA, kali ini EHS akan membahas tujuan utama EHS berlibur ke Cambodia ini. Siem Reap sudah menjadi tujuan wisata dunia. Semua itu dikarenakan oleh kemegahan candi-candi di Angkor yang letaknya dekat dengan Siem Reap. Jadi mau tidak mau, Siem Reap pun ikut berkembang menjadi tempat tujuan wisata karena banyak penginapan dan restauran maupun pasar dan bar untuk kebutuhan para turis.
Selain itu, Angkor menjadi semakin popular karena menjadi tempat shooting film Tomb Rider yang diperankan oleh Angelina Jolie. Masih ingat dengan candi yang terikat dengan pohon dan akarnya dalam film, itu menjadi salah satu tempat paling popular buat foto bagi para turis. Semua itu mengakibatkan Siem Reap semakin dilirik. Jadi lengkap sudah semua euforia di sini. Mari ikuti perjalanan EHS.
Rabu, 30 Juli 2014. Phnom Penh - Siem Reap.
EHS dari Phnom Penh menuju Siem Reap menggunakan hotel bus. Masih ingat dengan kecelakaan yang dialami bus ini, ban bus ini terjebak dalam tanah gembur. Sehingga jadwal sampai di Siem Reap pun molor dari jam 6 pagi menjadi jam 10 pagi. Bus kalau dibawah jam 6 boleh masuk ke dalam kota. Tetapi kalau di atas itu, harus parkir di pinggir kota. Dari pangkalan bus di pinggir kota, kita dapat menggunakan tuk-tuk untuk menuju ke penginapan. Ongkos tuk-tuk sudah ditentukan USD 2/orang biar jauh dekat selama di dalam kota Siem Reap. Jadi kita tidak dapat menawar, maupun share dengan orang lain, karena tarifnya per orang.
Setelah sampai di hostel, EHS pergi bersama dengan 2 teman baru EHS dari hotel bus untuk makan. Setelah itu berpisah karena tujuan mereka langsung ke Angkor, sedangkan jadwal EHS ke Angkor keesokan harinya karena sudah janji dengan teman EHS yang sehostel di Phnom Penh. Salut untuk teman EHS, karena mereka ke Angkor naik sepeda. Banyak juga sih turis yang menyewa sepeda untuk ke Angkor. Kalau EHS punya waktu banyak pun pasti juga mencoba hal itu *alasan saja* *padahal malas*
Sebenarnya EHS sudah memiliki jadwal yang karena terlambat datang, maka banyak yang terlewati. Tetapi EHS akan tetap bahas satu per satu.
Phsar Chas
Phsar Chas ini merupakan Central Market. Jadi di pasar ini menjual barang-barang seperti pasar pada umumnya. EHS juga tidak tahu dari mana asalnya, tetapi EHS sangat suka mengunjungi pasar untuk melihat kehidupan orang lokal dan menemukan makanan yang biasa dimakan orang lokal. Sayangnya EHS melewatkan hal ini.
Silk Farm
EHS juga menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan hewan (selama bukan kecoak) dan juga EHS suka mempelajari proses produksi. Makanya walaupun silk farm ini bukan tujuan utama turis, EHS tetap memasukkan ini ke dalam list yang dikunjungi EHS. Artisan d'Angkor merupakan toko cendera mata yang lumayan terkenal dan buatannya bagus. Dia juga menjual sutra yang diproduksi sendiri dari silk farm-nya. Dan bagusnya lagi, kita dapat mengunjungi silk farm secara gratis, tetapi disarankan untuk memberikan tips (USD 2) untuk guide yang mendampingi dan menjelaskan segala sesuatunya kepada kita. Kita dapat melihat peternakan ulat sutra dan proses pembuatannya sampai menjadi sutra yang siap pakai. Sayangnya EHS juga melewatkan yang ini juga.
Karena berada di pinggir kota, maka cara menuju kesini dengan menggunakan tuk-tuk atau motodop. Tetapi di outlet Artisan d'Angkor yang berada di dekat pusat keramaian menyediakan shuttle gratis untuk jam-jam tertentu.
Angkor National Museum
Selain itu, Angkor menjadi semakin popular karena menjadi tempat shooting film Tomb Rider yang diperankan oleh Angelina Jolie. Masih ingat dengan candi yang terikat dengan pohon dan akarnya dalam film, itu menjadi salah satu tempat paling popular buat foto bagi para turis. Semua itu mengakibatkan Siem Reap semakin dilirik. Jadi lengkap sudah semua euforia di sini. Mari ikuti perjalanan EHS.
Rabu, 30 Juli 2014. Phnom Penh - Siem Reap.
EHS dari Phnom Penh menuju Siem Reap menggunakan hotel bus. Masih ingat dengan kecelakaan yang dialami bus ini, ban bus ini terjebak dalam tanah gembur. Sehingga jadwal sampai di Siem Reap pun molor dari jam 6 pagi menjadi jam 10 pagi. Bus kalau dibawah jam 6 boleh masuk ke dalam kota. Tetapi kalau di atas itu, harus parkir di pinggir kota. Dari pangkalan bus di pinggir kota, kita dapat menggunakan tuk-tuk untuk menuju ke penginapan. Ongkos tuk-tuk sudah ditentukan USD 2/orang biar jauh dekat selama di dalam kota Siem Reap. Jadi kita tidak dapat menawar, maupun share dengan orang lain, karena tarifnya per orang.
Setelah sampai di hostel, EHS pergi bersama dengan 2 teman baru EHS dari hotel bus untuk makan. Setelah itu berpisah karena tujuan mereka langsung ke Angkor, sedangkan jadwal EHS ke Angkor keesokan harinya karena sudah janji dengan teman EHS yang sehostel di Phnom Penh. Salut untuk teman EHS, karena mereka ke Angkor naik sepeda. Banyak juga sih turis yang menyewa sepeda untuk ke Angkor. Kalau EHS punya waktu banyak pun pasti juga mencoba hal itu *alasan saja* *padahal malas*
Sebenarnya EHS sudah memiliki jadwal yang karena terlambat datang, maka banyak yang terlewati. Tetapi EHS akan tetap bahas satu per satu.
Phsar Chas ini merupakan Central Market. Jadi di pasar ini menjual barang-barang seperti pasar pada umumnya. EHS juga tidak tahu dari mana asalnya, tetapi EHS sangat suka mengunjungi pasar untuk melihat kehidupan orang lokal dan menemukan makanan yang biasa dimakan orang lokal. Sayangnya EHS melewatkan hal ini.
Silk Farm
EHS juga menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan hewan (selama bukan kecoak) dan juga EHS suka mempelajari proses produksi. Makanya walaupun silk farm ini bukan tujuan utama turis, EHS tetap memasukkan ini ke dalam list yang dikunjungi EHS. Artisan d'Angkor merupakan toko cendera mata yang lumayan terkenal dan buatannya bagus. Dia juga menjual sutra yang diproduksi sendiri dari silk farm-nya. Dan bagusnya lagi, kita dapat mengunjungi silk farm secara gratis, tetapi disarankan untuk memberikan tips (USD 2) untuk guide yang mendampingi dan menjelaskan segala sesuatunya kepada kita. Kita dapat melihat peternakan ulat sutra dan proses pembuatannya sampai menjadi sutra yang siap pakai. Sayangnya EHS juga melewatkan yang ini juga.
Karena berada di pinggir kota, maka cara menuju kesini dengan menggunakan tuk-tuk atau motodop. Tetapi di outlet Artisan d'Angkor yang berada di dekat pusat keramaian menyediakan shuttle gratis untuk jam-jam tertentu.
Angkor National Museum
Monday, August 11, 2014
Cambodia 2014: Phnom Penh
Halo Sahabat EHSNOUTA, sebenarnya trip kali ini EHS pergi ke Singapore, Phnom Penh, Siem Reap dan Bangkok. Tetapi untuk Singapore dan Bangkok tidak akan EHS jelaskan secara detail, karena sebagian besar sudah ada di postingan EHS yang lain. Karena EHS hanya mengunjungi Singapore dan Bangkok hanya untuk belanja hehehe .. Tetapi untuk Bangkok akan ada tambahan sedikit. Jadi, fokus utamanya adalah Kamboja (Cambodia).
Senin, 28 Juli 2014. Singapore - Phnom Penh.
Pesawat EHS dari Singapore berangkat pukul 13.55 dan tiba di Phnom Penh pukul 15.00. Harap hati-hati dengan transportasi menuju penginapan. Untuk transport ke penginapan, kita mempunyai 3 pilihan, yang pertama adalah motodop (ojek). Motodop ini merupakan transport paling murah. Tetapi motodop hanya ada di luar dari kawasan airport. Dan untuk harganya biasanya USD 5. Yang kedua adalah tuk-tuk. Tuk-tuk ini lebih mahal dari motodop. Biasanya untuk menuju penginapan USD 8. Waktu itu tuk-tuk yang menghampiri EHS meminta USD 12 untuk menuju penginapan. Dan tentu saja EHS menolaknya. Dan terakhir adalah taxi. Biasanya ongkos taxi USD 12. Setelah berdebat dengan tuk-tuk, EHS mencoba menawar taxi, dan dengan mulusnya taxi itu memberikan tarif hanya USD 9. Harap diperhatikan, taxi disini tidak memakai argo. Jadi untuk semua jenis transportasi disini harap mengeluarkan skill untuk menawar. Dan untuk mengetahui harga normalnya, kita dapat bertanya kepada information di airport atau resepsionis penginapan kita.
EHS di Phnom Penh menginap di One Stop Hostel. Hostel ini sangat nyaman. EHS tidak terlalu suka dengan hostel yang memiliki bar, karena bakal mengganggu istirahat, tetapi enaknya kita dapat mempunyai teman banyak. One Stop Hostel ini tidak memiliki bar, sangat bersih dan lokasinya sangat strategis. Berada di dekat tempat berhentinya bus malam ke Siem Reap yang akan EHS naiki. Selain itu lokasinya berada di riverside (pinggir sungai) yang oleh pemerintah disulap menjadi taman yang sangat nyaman. Selain itu banyak cafe dan street vendor yang memudahkan kita untuk mencari makanan. Karena EHS sudah cocok dengan hostel ini, maka untuk di Siem Reap EHS juga menggunakan One Stop Hostel juga. Karena memiliki lokasi yang strategis juga.
Sesampai di hostel, EHS check in mengatur barang dan mandi. Enaknya tinggal di hostel itu karena kita bakal sekamar dengan orang lain, yang berarti kita tidak akan sendirian walaupun kita lagi traveling sendirian. Setelah semuanya selesai, EHS memutuskan mengunjungi Wat Phnom dan setelah itu mencari makan. Beruntungnya EHS karena teman sekamar EHS mau ikut bersama dengan EHS.
Wat Phnom
Wat artinya kuil dan Phnom artinya bukit, jadi arti wat phnom adalah kuil yang dibangun diatas bukit. Tidak ada yang spesial dari kuil ini. Tetapi sejarah kuil ini yang menjadikannya spesial. Konon ada seorang janda kaya bernama Penh yang menemukan pohon koki di sungai. Dan ternyata di dalam pohon itu terdapat patung Budha yang terbuat dari perunggu. Kemudian janda itu membuat kuil diatas bukit untuk melindungi patung tersebut. Dan akhirnya raja membangun kuil untuk menghormati janda itu, dan membuat nama janda tersebut untuk kota ini. Jadi Phnom Penh memiliki hubungan dengan kuil ini dan janda yang membangun kuil ini.
Senin, 28 Juli 2014. Singapore - Phnom Penh.
Pesawat EHS dari Singapore berangkat pukul 13.55 dan tiba di Phnom Penh pukul 15.00. Harap hati-hati dengan transportasi menuju penginapan. Untuk transport ke penginapan, kita mempunyai 3 pilihan, yang pertama adalah motodop (ojek). Motodop ini merupakan transport paling murah. Tetapi motodop hanya ada di luar dari kawasan airport. Dan untuk harganya biasanya USD 5. Yang kedua adalah tuk-tuk. Tuk-tuk ini lebih mahal dari motodop. Biasanya untuk menuju penginapan USD 8. Waktu itu tuk-tuk yang menghampiri EHS meminta USD 12 untuk menuju penginapan. Dan tentu saja EHS menolaknya. Dan terakhir adalah taxi. Biasanya ongkos taxi USD 12. Setelah berdebat dengan tuk-tuk, EHS mencoba menawar taxi, dan dengan mulusnya taxi itu memberikan tarif hanya USD 9. Harap diperhatikan, taxi disini tidak memakai argo. Jadi untuk semua jenis transportasi disini harap mengeluarkan skill untuk menawar. Dan untuk mengetahui harga normalnya, kita dapat bertanya kepada information di airport atau resepsionis penginapan kita.
EHS di Phnom Penh menginap di One Stop Hostel. Hostel ini sangat nyaman. EHS tidak terlalu suka dengan hostel yang memiliki bar, karena bakal mengganggu istirahat, tetapi enaknya kita dapat mempunyai teman banyak. One Stop Hostel ini tidak memiliki bar, sangat bersih dan lokasinya sangat strategis. Berada di dekat tempat berhentinya bus malam ke Siem Reap yang akan EHS naiki. Selain itu lokasinya berada di riverside (pinggir sungai) yang oleh pemerintah disulap menjadi taman yang sangat nyaman. Selain itu banyak cafe dan street vendor yang memudahkan kita untuk mencari makanan. Karena EHS sudah cocok dengan hostel ini, maka untuk di Siem Reap EHS juga menggunakan One Stop Hostel juga. Karena memiliki lokasi yang strategis juga.
Sesampai di hostel, EHS check in mengatur barang dan mandi. Enaknya tinggal di hostel itu karena kita bakal sekamar dengan orang lain, yang berarti kita tidak akan sendirian walaupun kita lagi traveling sendirian. Setelah semuanya selesai, EHS memutuskan mengunjungi Wat Phnom dan setelah itu mencari makan. Beruntungnya EHS karena teman sekamar EHS mau ikut bersama dengan EHS.
Wat Phnom
Wat artinya kuil dan Phnom artinya bukit, jadi arti wat phnom adalah kuil yang dibangun diatas bukit. Tidak ada yang spesial dari kuil ini. Tetapi sejarah kuil ini yang menjadikannya spesial. Konon ada seorang janda kaya bernama Penh yang menemukan pohon koki di sungai. Dan ternyata di dalam pohon itu terdapat patung Budha yang terbuat dari perunggu. Kemudian janda itu membuat kuil diatas bukit untuk melindungi patung tersebut. Dan akhirnya raja membangun kuil untuk menghormati janda itu, dan membuat nama janda tersebut untuk kota ini. Jadi Phnom Penh memiliki hubungan dengan kuil ini dan janda yang membangun kuil ini.
Saturday, July 26, 2014
Korea 2014: Nami Island
Untuk lihat itinerary klik >>>>>ITINERARY<<<<<
Horeeee ... Ini adalah postingan terakhir dari trip ke Korea kemarin. Butuh waktu lama mempersiapkan ini, karena EHS ada kesibukan lainnya untuk trip berikutnya (besok berangkat hahaha ..). Makanya EHS sibuk mempersiapkan itinerary, booking apa saja yang bisa di booking (tidak termasuk selimut hidup ya hehehe .. #18thkeatas), dan juga packing. Tapi untungnya postingan ini sebenarnya simple, hanya gambar yang banyak berbicara.
Sabtu, 17 Mei 2014. Nami Island.
Nami Island
Sebetulnya di jadwal yang EHS buat, jam 07.12 kita harus sudah sampai di subway station. Jadi EHS membangunkan mereka jam 05.30. Tapi seperti biasa, mereka selalu molor hehehe .. Jadinya sekitar jam 09.00 kita baru berangkat. EHS sih tidak keberatan karena EHS sudah pernah ke Nami. Hanya saja EHS selalu mengingatkan mereka, untuk hari pertama dan terakhir haus TIDAK BOLEH telat. Karena bisa gila kalau kita ketinggalan pesawat. Jadi EHS maklumin saja deh kalau pergi berbanyak orang lalu telat.
Karena ini hari sabtu, dan musim di Korea adalah peralihan musim semi ke panas, maka banyak orang yang memilih tamasya ke daerah terbuka. Termasuk Nami Island sedang penuh-penuhnya. Di subway kita tidak dapat tempat duduk. Padahal perjalanan hampir 3 jam. Salah sendiri sih telat. Misal kita berangkat pagi, mungkin tidak sebanyak ini.
Akhirnya 3 jam perjalanan selesai sudah, dan kita berakhir di Gapyeong Station. Ada 3 pilihan untuk menuju ke pintu masuk Nami, pertama adalah naik taxi yang sekitar KRW 5,000. Kedua adalah bus umum yang berharga KRW 1,200. Ketiga memakai bus pariwisata hop on hop off yang melalui tempat wisata terkenal termasuk Nami Island (lokasi shooting Winter Sonata) yang akan kita kunjungi dan Petite France yang merupakan lokasi shooting Secret Garden dan You Who Came From the Star (adegan dimana ditarik ke udara trus di cium)
Sebenarnya EHS ingin yang ketiga dan mengunjungi Petite France juga. Tapi EHS mengurungkan niat karena EHS sudah datang terlambat. Jadwal bus pun setiap 1 jam sekali, jadi waktunya bakal sangat mepet. Akhirnya pilihan lainnya adalah memakai taxi. Karena 1 taxi bisa berisi 4 orang. Jadi cukup murah dan nyaman. Tetapi, ternyata peraturan berubah, untuk keberangkatan kita diharuskan memutar untuk menghindari kemacetan. EHS tidak tahu apakah peraturan itu benar atau hanya scam dari tukang taxi karena bus, kendaraan pribadi masih dapat lewat jalan biasanya. Akhirnya untuk berangkatnya kita habis KRW 20,000 dan pulangnya tetap KRW 5,000.
Setelah beberapa menit (sebentar kok, ga sampai setengah jam), sampailah kita di pintu masuk Nami Island. Kreatifnya, Nami ini dibuat seperti negeri tersendiri Naminara Republic. Jadi kita perlu visa yang adalah karcis masuknya. Harga tiketnya KRW 10,000 per orang. Karena kita berdua belas, kita dapat diskon jadi KRW 8,000 per orang. Salah satu enaknya kalau pergi lebih dari 10 orang adalah ini.
Setelah masuk, kita mengantri untuk kapal penyebrangan yang akan menyebrangkan kita ke Nami.
Thursday, July 17, 2014
Korea 2014: YG Entertainment
Untuk lihat itinerary klik >>>>>ITINERARY<<<<<
Halo Sahabat EHSNOUTA, VIPs (fans BIGBANG) dan BlackJacks (fans 2NE1). Walaupun demam Korea sudah tidak semerbak seperti dahulu, tetapi EHS sudah terlanjur lengket dengan 2 group papan atas di Korea, yaitu BIGBANG dan 2NE1. Hebatnya lagi, semua keluaran YG Entertainment. EHS suka sekali dengan konsep dari YG. YG tidak mengangkat tema imut dan lucu. Konsep YG itu liar, nakal, brutal, membuat semua orang menjadi SENANG .. Kera Sakti .. lho .. lho .. kok jadi nyanyi hahaha .. Tapi emang benar, BIGBANG dan 2NE1 ini jauh dari kesan lucu dan imut-imut. Kesannya bad boy dan bad girl banget. Walaupun mereka tidak berwajah super ganteng dan super cantik, tapi EHS sudah terlanjur suka hahaha ..
Jadi EHS memutuskan untuk mengunjungi YG Entertainment pada trip bersama keluarga ke Korea 2014. Tapi berhubung takut repot dan takut dengan protesan dari pasukan, maka EHS mengunjungi diam-diam pada pagi hari sewaktu pasukan EHS bersiap-siap. Ceritanya EHS bela-belain bangun super pagi, mandi super dulu, bangunin orang-orang super, langsung menuju ke super YG. Semuanya SUPER hahaha ..
Kebetulan EHS menginap di daerah Hongik University. Dan YG Building ini terletak di Hapjeong yang kalau naik subway hanya berjarak 1 station saja. Cara menuju ke YG Building dari Hapjeong station bisa dilihat di peta di bawah ini.
Halo Sahabat EHSNOUTA, VIPs (fans BIGBANG) dan BlackJacks (fans 2NE1). Walaupun demam Korea sudah tidak semerbak seperti dahulu, tetapi EHS sudah terlanjur lengket dengan 2 group papan atas di Korea, yaitu BIGBANG dan 2NE1. Hebatnya lagi, semua keluaran YG Entertainment. EHS suka sekali dengan konsep dari YG. YG tidak mengangkat tema imut dan lucu. Konsep YG itu liar, nakal, brutal, membuat semua orang menjadi SENANG .. Kera Sakti .. lho .. lho .. kok jadi nyanyi hahaha .. Tapi emang benar, BIGBANG dan 2NE1 ini jauh dari kesan lucu dan imut-imut. Kesannya bad boy dan bad girl banget. Walaupun mereka tidak berwajah super ganteng dan super cantik, tapi EHS sudah terlanjur suka hahaha ..
Jadi EHS memutuskan untuk mengunjungi YG Entertainment pada trip bersama keluarga ke Korea 2014. Tapi berhubung takut repot dan takut dengan protesan dari pasukan, maka EHS mengunjungi diam-diam pada pagi hari sewaktu pasukan EHS bersiap-siap. Ceritanya EHS bela-belain bangun super pagi, mandi super dulu, bangunin orang-orang super, langsung menuju ke super YG. Semuanya SUPER hahaha ..
Kebetulan EHS menginap di daerah Hongik University. Dan YG Building ini terletak di Hapjeong yang kalau naik subway hanya berjarak 1 station saja. Cara menuju ke YG Building dari Hapjeong station bisa dilihat di peta di bawah ini.
Saturday, July 12, 2014
6 Kesalahan AirAsia Dalam Hidupku
Traveling. Kata itu pada waktu dulu hanya berupa harapan, keinginan dan cita-cita. Sampai pada suatu kali EHS dipertemukan dengan AirAsia. Dan dari situlah AirAsia membuat kesalahan-kesalahan dalam kehidupanku. EHS akan membahas 6 kesalahan yang dilakukan AirAsia dalam hidup EHS dan merubah hidup EHS.
1. Menjadi candu
Pertama kali EHS pergi ke luar negri itu ke Singapura dan Malaysia bersama keluarga EHS pada awal tahun 2011. Dan itu permulaan EHS menjadi kecanduan berpergian. EHS bakal mencari-cari kesempatan untuk pergi, baik itu dalam negri maupun luar negri. Semua salah siapa? Salahkan AirAsia.
2. Menjadi hemat
Karena tergiur banyaknya promo dari AirAsia, setelah kepergian pertama ke luar negri bersama keluarga, maka EHS memutuskan untuk mencoba solo traveling ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Dengan keterbatasan dana, maka EHS harus pintar-pintar mengatur keuangan. Membandingkan moda transportasi yang satu dengan yang lainnya dengan mempertimbangkan waktu, tenaga dan dananya. Sebagai contoh, Waktu itu EHS akan melakukan perjalanan dari Bangkok menuju ke Phuket. Ada dua pilihan transportasi yang EHS pertimbangkan, antara naik bus dengan harga THB 650 selama 13 jam, dan naik pesawat yang kebetulan dengan AirAsia dengan harga THB 654.90 dan hanya selama 1 jam 20 menit. Ya jelas AirAsia yang bakalan dipilih. Semua salah siapa? Salahkan AirAsia.
1. Menjadi candu
Pertama kali EHS pergi ke luar negri itu ke Singapura dan Malaysia bersama keluarga EHS pada awal tahun 2011. Dan itu permulaan EHS menjadi kecanduan berpergian. EHS bakal mencari-cari kesempatan untuk pergi, baik itu dalam negri maupun luar negri. Semua salah siapa? Salahkan AirAsia.
2. Menjadi hemat
Karena tergiur banyaknya promo dari AirAsia, setelah kepergian pertama ke luar negri bersama keluarga, maka EHS memutuskan untuk mencoba solo traveling ke Thailand, Malaysia dan Singapura. Dengan keterbatasan dana, maka EHS harus pintar-pintar mengatur keuangan. Membandingkan moda transportasi yang satu dengan yang lainnya dengan mempertimbangkan waktu, tenaga dan dananya. Sebagai contoh, Waktu itu EHS akan melakukan perjalanan dari Bangkok menuju ke Phuket. Ada dua pilihan transportasi yang EHS pertimbangkan, antara naik bus dengan harga THB 650 selama 13 jam, dan naik pesawat yang kebetulan dengan AirAsia dengan harga THB 654.90 dan hanya selama 1 jam 20 menit. Ya jelas AirAsia yang bakalan dipilih. Semua salah siapa? Salahkan AirAsia.
Subscribe to:
Posts (Atom)







.jpg)








