Saturday, April 22, 2017

Travel Myanmar: Mandalay Ancient Cities Tour



Ada beberapa kota kuno disekitar kota Mandalay. Pada kesempatan kali ini, EHS dapat mengunjungi 3 diantaranya yang paling terkenal yaitu Sagaing, Amarapura dan Inwa. EHS masih menggunakan jasa tour ojek yang sama sewaktu berkeliling Mandalay. Waktu itu untuk tour ojek ke Mandalay Ancient City Tour ini biayanya sekitar MMK 10000. Karena kemarin waktunya mepet, karena EHS baru datang sekitar pukul 11 siang. Maka untuk hari ini disisipkan 1 kuil yang belum dikunjungi.


Mahamuni Pagoda

Kuil ini biasanya termasuk dalam Mandalay City Tour. Setiap pagi hari, kita dapat melihat orang-orang beribadah, memandikan patung Budha dan terkadang ada sumbangan untuk menempelkan daun emas di patung Budha yang ada di tengah-tengah area.


Menempelkan daun emas


Memandikan patung Budha


Setelah dari Mahamuni Pagoda, kita akan diajak ke luar kota menuju Amarapura. Di tengah-tengah perjalanan, kita dapat melihat pengrajin patung dan terlihat para biarawan berkeliling untuk meminta makanan.







Mahagandayon Monastery

Perhentian pertama kita di biara Mahaganayon. Terkenal dengan proses pemberian sarapan yang dapat dilihat oleh turis setiap pukul 10.30 pagi. Harap perhatikan kesopanan waktu disini. Banyak turis yang mengambil gambar dengan menggunakan lampu blitz yang mengganggu mereka. Dan banyak yang berfoto mendekat kepada mereka, padahal biarawan senior sudah memperingatkan jangan terlalu dekat.










Htupuryon Paya / Sitagu International Buddhist Academy

Kita menuju ke Sagaing. Karena naik tour ojek, maka kita dapat mengunjungi yang terkadang jarang dikunjungi turis. Misalnya di Sitagu ini. Waktu itu hanya ada segelintir orang yang berada disini. Di tempat ini pernah diadakan World Peace Buddhist Conference termasuk Indonesia juga ada yang mewakili hadir disana.




Sagaing Hills

Di Sagaing Hill terdapat beberapa tempat yang dituju, yaitu Kaungmudaw Paya, Sagaing Temple dan Soon U Ponya Shin Bell Tower. Karena letak kuil yang berada di atas bukit, maka pemandangan yang didapatkan pun bagus sekali.







Setelah selesai dengan Sagaing Hills, kita akan menyebrang ke Inwa. Inwa dulunya merupakan suatu kerajaan. Dan kita dapat melihat bekas dari kerajaan yang tersisa. Sebagian sudah dijadikan kuil. Untuk menuju ke Inwa, biasanya kita akan di drop sama tour guide, lalu disuruh memilih mau naik perahu kecil menuju ke sana dan naik dokar untuk berkeliling Inwa. Naik perahu memerlukan uang sekitar MMK 1000 dan naik dokar MMK 5000. Kalau kamu merasa kuat jalan seprti turis-turis lainnya, kamu bisa naik perahu saja, selanjutnya jalan kaki untuk menghemat. Untungnya tour ojek ini membawa EHS keliling Inwa naik sepeda motornya sambil menjelaskan hal diatas dan berkata, “Untung kamu sama aku, jadi ga nambah uang lagi.”


Le Htat Gyi Pagoda

Pagoda ini berada ditengah kerusakan yang diakibatkan oleh gempa bumi. Kita dilarang masuk karena terlalu berbahaya. Jadi disini kita hanya berhenti sebentar untuk foto.


Tembok pertahanan yang mengelilingi kerajaan Inwa

Maha Aung Mye Bon Zan Monastery

Kuil ini unik karena memiliki bentuk seperti kuil yang terbuat dari kayu dengan atapnya yang bertumpuk-tumpuk. Pada waktu itu banyak kuil dari kayu yang terbakar, maupun tidak tahan dengan cuaca, sehingga dibuatlah kuil ini dengan menggunakan batu bata walaupun modelnya masih model kayu. Untuk memasuki kuil ini, diperlukan tiket Mandalay Zone yang EHS beli waktu di Mandalay City Tour. Untuk membacanya dapat di klik disini Mandalay City Tour. Makanya jangan sampai hilang tiket tersebut.




Watch Tower

Tidak jauh dari sana, terdapat menara pengintai. Pada saat ini menara pengintai ini masih di renovasi. Tetapi lucunya menara ini agak miring. Entah ini karena pergerakan tanah atau memang dibangun miring (yang rasanya tidak mungkin).



Pemandian buat keluarga Raja

Yadana Hsemee Pagoda

Kuil ini sebagian besar sudah hancur dan menyatu dengan alam. Salah satu hal unik dari kuil ini adanya patung Budha di bawah pohon besar, seperti mengibaratkan aslinya.






Bagaya Kyaung Monastery

Biara ini dibangun menggunakan kayu jati. Pilar penyangganya pun menggunakan kayu jati yang cukup besar. Pada saat EHS kesana, ada pelajaran untuk biarawan kecil. Untuk masuk ke tempat ini, juga diperlukan tiket Mandalay Zone.







Setelah dari Bagaya Kyaung, tujuan selanjutnya adalah U Bein Bridge. Sewaktu perjalanan, tour ojek membawa ke satu komplek kuil. EHS sudah lupa nama kuilnya. Dan EHS dibawa ke tempat pembuatan longyi.






U Bein Bridge

U Bein bridge ini terletak di Amarapura. Jadi setelah keliling Amarapura, Sagaing, Inwa, akhirnya kembali ke Amarapura lagi. U Bein bridge ini adalah jembatan yang terbuat dari kayu jati terpanjang di dunia. Dari jembatan ini, kita dapat melihat langsung kehidupan masyarakat Myanmar di daerah itu. Ada yang nelayan, peternak bebek, bercocok tanam di endapan di tengah sungai dll. Disini, EHS dan tour ojek menepi di warung di pinggir sungai untuk menikmati tahu yang halus seperti tahu sutra dan ketan goreng menunggu matahari terbenam.















< Prev                                                                                                                                             Next >

4 comments:

  1. kok aku rada berkunang2 ya liat kepala2 botak yang kumpul makan.. ehehehe

    Myanmar tuh mirip sama kita yaa, banyak candi2 dan bangunan tua yang mirip

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha .. Kesalahan bukan di matamu, kesalahan pada kamera atau fotonya atau manusianya yang ga bisa diam kalau difoto atau pada manusia yg mengambil foto hahaha ..

      Iya lumayan mirip. Banyakan sana tapinya. Secara mayoritas disana kan agama Budha, sedang disini kan mayoritas agama Islam.

      Delete
  2. Yo... apa kabar koh?
    poto2nya bagus...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah .. Lama ga muncul kak dodo. Apa kabar?? Baik2 disini hehehe ..

      Delete